
Penulis: Eriena Sartika Ayu, S.Psi, MAPS
Indonesia sedang berada pada masa yang sangat penting dalam perjalanan demografinya. Di satu sisi, Indonesia menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun di sisi lain, Indonesia juga mulai memasuki era aging population atau penuaan penduduk, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk lanjut usia (lansia) semakin meningkat.
Menurut data Badan Pusat Statistik (SUPAS, 2025), jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 33,94 juta orang atau sekitar 11,9% dari total penduduk. Artinya, hampir satu dari sepuluh penduduk Indonesia saat ini merupakan lansia. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki fase masyarakat menua (aging society).
Meningkatnya jumlah lansia sebenarnya merupakan kabar baik. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kesehatan masyarakat semakin membaik dan angka harapan hidup terus meningkat. Akan tetapi, kondisi tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan baru. Berkurangnya tenaga kerja produktif, meningkatnya biaya kesehatan, serta bertambahnya kebutuhan jaminan sosial menjadi beberapa persoalan yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
Di Indonesia, tantangan tersebut diperberat dengan masih kuatnya fenomena sandwich generation, yaitu generasi produktif yang harus menanggung kebutuhan anak sekaligus orang tua lanjut usia. Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan keluarga dan menghambat optimalisasi bonus demografi.
Meski demikian, penuaan penduduk tidak selalu identik dengan beban. Dengan kebijakan yang tepat, fenomena ini justru dapat menjadi peluang atau bahkan disebut sebagai "bonus demografi kedua". Lansia yang sehat, mandiri, dan tetap aktif dapat terus berkontribusi bagi keluarga, sosial maupun ekonomi.
Berbagai negara, seperti Jepang dan Singapura, telah membuktikan bahwa investasi pada kesehatan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan lansia mampu meningkatkan kualitas hidup penduduk usia lanjut. Konsep active aging yang menekankan pada partisipasi, kesehatan, dan keamanan lansia menjadi salah satu strategi yang dapat diterapkan.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) telah menjalankan berbagai program yang memfokuskan pada penduduk lanjut usia, seperti Bina Keluarga Lansia (BKL), Sekolah Lansia, dan program SIDAYA (Lansia Berdaya). Program-program ini bertujuan agar lansia tetap sehat, produktif, dan mandiri.
Pendekatan berbasis keluarga yang diterapkan Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan arah kebijakan yang lebih holistik dibanding pendekatan berbasis individu. Namun demikian dari banyaknya program yang telah dijalankan oleh Kemendukbangga hingga saat ini belum pernah dilakukan penelitian secara ilmiah untuk mengevaluasi efektivitas program dengan kesejahteraan lansia di lapangan. Sehingga hal ini menjadi sebuah peluang terbuka bagi para peneliti untuk mengkaji dan menilai secara lebih lanjut dan mendalam.
Pemerintah Indonesia harus mulai belajar dari apa yang telah dilakukan oleh negara Asia lainnya yang telah terlebih dahulu mengalami kondisi penuaan populasi seperti Jepang dan Singapura, sehingga ketika tiba saatnya nanti Indonesia memasuki masa puncak aging population, pemerintah telah siap dengan rencana-rencana mitigasi terbaiknya.
Namun pada akhirnya, kesiapan menghadapi aging population bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Dengan kolaborasi yang baik, penuaan penduduk dapat menjadi peluang besar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang sejahtera dan berkelanjutan.