
Penulis : Prof. Budi Setiyono- Sesmendukbangga/BKKBN
Mengapa dalam beberapa periode terakhir, rupiah bergerak di kisaran yang semakin lemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sudah seputar Rp 17.000 per 1 dolar AS di pasar offshore?
Fenomena ini bisa jadi sekadar gejolak sesaat akibat kondisi instabilitas politik-keamanan global, namun bisa juga merupakan cerminan persoalan struktural ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Banyak orang bertanya: mengapa rupiah terus melemah meski Indonesia memiliki sumber daya alam besar, pertumbuhan ekonomi relatif stabil, dan surplus perdagangan pada beberapa tahun terakhir?
Jawaban sederhananya terletak pada satu hal mendasar: kebutuhan dolar Indonesia jauh lebih besar dibanding kemampuan ekonomi domestik menghasilkan dolar secara berkelanjutan.
Dolar Lebih Banyak Keluar daripada Masuk
Dalam sistem ekonomi global saat ini, dolar AS masih menjadi mata uang utama perdagangan, investasi, dan pembayaran internasional. Tentu, Indonesia juga membutuhkan dolar untuk hampir seluruh aktivitas strategis ekonomi nasional.
Dolar dibutuhkan untuk:
impor BBM dan LPG,
impor mesin dan bahan baku industri, pembayaran utang luar negeri, pembayaran lisensi teknologi, pembelian perangkat digital dan cloud, hingga kebutuhan investasi masyarakat dan korporasi di luar negeri. Dolar dibutuhkan juga untuk pembiayaan studi dan perjalanan luar negeri.
Masalahnya, permintaan terhadap dolar terus meningkat lebih cepat dan lebih banyak daripada pasokan dolar yang masuk ke dalam negeri. Akibatnya sederhana: harga dolar naik dan rupiah melemah.
Fenomena ini semakin terasa ketika kondisi global tidak menentu. Naiknya suku bunga AS membuat investor global memilih memindahkan dana mereka ke aset dolar yang dianggap lebih aman dan lebih menguntungkan.
Ketika investor asing menjual obligasi dan saham Indonesia, mereka menukar rupiah menjadi dolar AS. Tekanan terhadap rupiah pun meningkat.
Ketika Uang Orang Indonesia Sendiri Pergi ke Luar Negeri
Yang sering luput dari perhatian publik adalah bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya disebabkan oleh investor asing. Sebagian tekanan justru berasal dari 'outflow' perpindahan aset milik warga Indonesia sendiri ke luar negeri.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi semakin aktif membutuhkan dollar untuk berbagai keperluan seperti: membeli properti di Australia dan Singapura, menyimpan dana tabungan dalam dolar AS, membuka rekening offshore, membeli saham AS, hingga memindahkan investasi ke luar negeri.
Fenomena ini terjadi karena dolar dianggap lebih stabil dibanding rupiah. Selain itu, pasar luar negeri dinilai menawarkan kepastian hukum, return investasi, dan stabilitas yang lebih baik.
Akibatnya, terjadi proses “dollarisasi aset” secara perlahan. Permintaan dolar di dalam negeri terus meningkat, sementara likuiditas dolar domestik semakin terbatas.
Pada titik inilah, rupiah menghadapi tekanan bukan hanya dari luar negeri, tetapi juga dari menurunnya kepercayaan domestik terhadap aset berdenominasi rupiah.
Ketergantungan Impor Membuat Rupiah Rentan
Persoalan lain yang sangat mendasar adalah struktur industri Indonesia yang masih bergantung pada impor. Indonesia memang mengekspor komoditas besar seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Namun pada saat yang sama, Indonesia masih mengimpor: energi, petrokimia, mesin industri,
alat kesehatan, komponen elektronik, gandum, kedelai, hingga bahan baku manufaktur.
Artinya, setiap kali ekonomi tumbuh, kebutuhan impor juga ikut meningkat. Semakin tinggi aktivitas ekonomi nasional, semakin besar kebutuhan dolar AS.
Di sinilah paradoks Indonesia muncul: pertumbuhan ekonomi justru sering kali meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Cadangan Devisa Tidak Cukup Menjadi Solusi Permanen
Bank Indonesia selama ini aktif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valas dan pembelian surat berharga negara. Cadangan devisa Indonesia juga masih relatif kuat.
Namun intervensi hanya bersifat jangka pendek. Cadangan devisa pada akhirnya adalah “tameng”, bukan solusi utama. Jika akar persoalan struktural tidak diperbaiki, tekanan terhadap rupiah akan terus berulang setiap kali terjadi gejolak global.
Indonesia Perlu Menjadi Penghasil Dolar Bernilai Tinggi
Masalah terbesar rupiah sesungguhnya terletak pada struktur ekonomi nasional.
Indonesia masih terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah atau semi-olah dengan nilai tambah relatif rendah. Sementara barang yang diimpor justru merupakan produk teknologi, mesin, dan industri bernilai tinggi.
Kondisi ini menyebabkan Indonesia: menjual barang bernilai tambah yang relatif rendah, tetapi membeli barang bernilai tambah tinggi. Akibatnya, kebutuhan dolar terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selama struktur ekonomi ini tidak berubah, rupiah akan terus rentan terhadap gejolak global.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Pelemahan rupiah tidak bisa diatasi hanya dengan intervensi pasar, menaikkan cadangan devisa, atau menaikkan suku bunga. Yang dibutuhkan adalah pembenahan struktural.
Pertama, seperti sering disampaikan Presiden Prabowo, pemerintah perlu memastikan devisa hasil ekspor benar-benar masuk dan tinggal lebih lama di dalam negeri. Selama ini sebagian besar dolar hasil ekspor justru parkir di luar negeri.
Kedua, Indonesia harus mengurangi ketergantungan impor energi. Impor BBM dan LPG merupakan salah satu sumber terbesar permintaan dolar. Kita perlu kembangkan energi alternatif yang lebih lestari.
Ketiga, industrialisasi harus dipercepat, terutama pada sektor yang mampu menggantikan impor seperti petrokimia, farmasi, elektronik, dan mesin industri. Disinilah letak peran strategis Danantara yang kita harapkan berhasil menjalankan tugasnya untuk mendorong hilirisasi.
Keempat, pemerintah perlu memperdalam pasar keuangan domestik agar ketergantungan terhadap investor asing berkurang.
Jika pembeli utama obligasi dan aset keuangan Indonesia berasal dari dalam negeri, tekanan capital outflow akan lebih mudah dikendalikan.
Kelima, yang tidak kalah penting adalah membangun kepercayaan terhadap aset rupiah. Stabilitas demografi, kepastian hukum, kepastian kebijakan, dan tata kelola ekonomi yang kredibel menjadi faktor penting agar masyarakat tidak terus memindahkan asetnya ke dolar AS.
Penutup
Pelemahan rupiah bukan semata persoalan kurs, melainkan refleksi dari struktur ekonomi Indonesia yang rentan terhadap dolar AS.
Selama Indonesia masih bergantung pada impor energi dan teknologi,
masih mengandalkan modal asing, dan belum menjadi negara industri bernilai tambah tinggi,
maka rupiah akan terus rentan melemah setiap kali dunia mengalami guncangan.
Pada akhirnya, kekuatan mata uang bukan hanya ditentukan oleh intervensi bank sentral, tetapi oleh seberapa kuat fondasi ekonomi sebuah negara dalam menghasilkan nilai tambah, kepercayaan, dan kemandirian.